Malam ini, ditemani cahaya lampu penerang jalan, aku ngobrol sama Beni.
FYI, Beni adalah pedagang tahu pedas ‘Klenger’ di depan tokoku, agak ke samping dikit sih. Selain sebagai pedagang, dia juga sebagai pemiliknya. Dia kelahiran 90, jadi usianya sekitar 22 tahun. Tahu pedas yang dijualnya mirip dengan gehujeletot di Bandung. Usahanya sudah berjalan sekitar setahun lebih. Awalnya dari 1 gerobak dan sekarang sudah memiliki 4 gerobak. Ide membuat tahu pedes ‘Klenger’ ini didapat saat dia kuliah di Bandung. Dia kuliah di Fakultas Teknik UnPad. Lulus kuliah, ikut proyek dosen, dapet Rp. 10juta, lalu dimulailah cerita tahu pedes ‘Klenger tersebut. Tahu pedes ‘Klenger’ ini juga dia franchise kan. Harganya Rp. 8juta sudah dapat gerobak, wajan, kompor, gas, dan 100 tahu. Laba bersih perbulan rata-rata Rp 2.5juta/gerobak.
Lalu perbincanganku dengan Beni…
Beni: “Kapan nek merid Bang?”
Aku: “Rencana sejauh ini Januari. Mohon do’anya.”
Beni: (mengajak berjabat tangan) “Selamat dulu Bang, jangan lupa undangan’e ok. Samelah ku juga Januari. Calon Abang kerja dimane?”
Aku: “Di Bhakti Wara.”
Beni: “Owh.. Bagian apa?”
Aku: “Apoteker. Calon ka?”
Beni: “Calon ku agik ambil S2 di Bandung.”
Aku: “Mantap tuh. Kelak rencana tinggal dimane?”
Beni: “Di Bandung Bang.”
Aku: “Ni usaha cemane terus?”
Beni: “Rencana kelak ku pake manager. Terus minta bantuan keluarga untuk kontrolnya.”
Aku: “Mantap! Calon ka kuliah sambil begawe dak?”
Beni: “Dak Bang. Dia cuma kuliah bai, dapat beasiswa.”
Aku: “Owh.. Ade dapat uang saku dak?”
Beni: “Ade Bang, 3juta sebulan. Tapi tulah, kelak men nya lulus, nya mengabdi kek pemberi beasiswa tadi. Misal’e jadi dosen.”
Aku: “Aoklah, dak hal.”
Beni: “Aok Bang. Biar istri di bidang akademis bai, ku yang di lapangan. Men istri kan kelak ngurus anak, jadi makin tinggi pendidikan e, harapan’e anak ku kelak pinter lah Bang. Rencana ku nek buka usaha macem ni juga di Bandung, tapi yang kujual makanan Bangka, macem otak-otak.”
Aku: “Aok.. Bener, bener.”
Mendadak merenung.. Bener juga ni orang. Perempuan bakal lebih banyak berinteraksi sama anak nantinya. Nah kalau pendidikannya tinggi, generasi mudanya juga cemerlang (Harusnya.. Teorinya..). Kenyataannya sihh, perempuan dengan pendidikan tinggi akan mengejar karir yang tinggi. Kompensasi karir yang tinggi adalah jam kerja yang panjang. Kompensasi jam kerja yang panjang adalah jam pertemuan dengan anak yang pendek. Kompensasi jam pertemuan dengan anak yang pendek adalah tambahan tenaga baru dari Pekerja Rumah Tangga (PRT). Nah, yg byk berinteraksi dengan anak jadinya si PRT. Lalu, apakah PRT ini harus berpendidikan tinggi?
Note: kenyataan ini tidak berlaku general.
